Showing posts with label HT-KASKUS. Show all posts
Showing posts with label HT-KASKUS. Show all posts

Tuesday, July 16, 2013


Gaya hidup orang-orang terkaya dunia identik dengan kemewahan: mobil supermahal, menyesap wine terbaik di kabin kelas utama atau bahkan jet pribadi, juga adibusana karya desainer terkemuka.

Namun seseorang tak mungkin kaya dengan menghabiskan semua uang mereka. Membelanjakan lebih sedikit dari apa yang dihasilkan adalah cara sederhana untuk mempertahankan pundi-pundi harta. Sejumlah miliuner sampai triliuner kelas dunia bahkan punya ide yang ekstrem. Dengan berbagai alasan, dari ngirit, untuk amal, sampai soal pilihan hidup atau keyakinan.

Misalnya, Keira Knightley, artis dan model terkenal Inggris. Ia "menggaji" dirinya sendiri 'hanya' US$ 50 ribu atau Rp 471 juta sepanjang tahun lalu. Nilai yang jauh lebih kecil dari pendapatannya dari film dan sejumlah iklan fashion yang mencapai 2,3 juta dolar Australia atau Rp 21 miliar.

Seperti dimuat News.com.au, Kamis (30/5/2013), apa yang dilakukan Keira Knightley belum apa-apa dibandingkan beberapa orang yang masuk daftar terkaya sejagad ini.


1. Warren Buffett


Investor legendaris Amerika Serikat, Warren Buffett punya kekayaan yang ibaratnya tak bakal habis sampai tujuh turunan: US$ 54,6 miliar atau Rp 535 triliun. Tapi lihat gaya hidupnya: ia masih tinggal di rumah 5 kamar tidur yang dibeli 55 tahun lalu seharga US$ 31.500 atau Rp 308 juta plus perabotan lawas. 

 2. Carlos Slim Helu

Sebagai salah satu orang terkaya di dunia, Carlos Slim Helu memiliki harta senilai US$ 67,2 miliar atau Rp 658 triliun. Tapi ia masih tinggal di rumah sederhana yang ia miliki 30 tahun lalu. Kamar tidurnya "seukuran sebuah kamar hotel di Manhattan". Tak seberapa luas. 

3. Mark Zuckerberg


Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg nyaris memakai pakaian yang sama setiap hari: kaus abu-abu. "Lemariku berisi sekitar 20 kaus abu-abu persis seperti ini," kata dia kepada NBC's Today tahun lalu.

Dia mengendarai Acura TSX berharga lumayan US$ 30 ribu dan rumah yang tak murah seharga US$ 7 juta. Masih tak sebanding dengan kekayaannya yang mencapai US$ 13.3 miliar atau Rp 130 triliun.

4. Chuck Feeney

Salah satu pendiri Duty Free Shoper, Chuck Feeney memilih mendonasikan sebagian besar kekayaannya yang lebih dari US$ 6 miliar atau Rp 58 triliun untuk amal. Ia juga tak gengsi berbaur dengan penumpang lain di kelas ekonomi.

"Duduk di kelas utama tak membuatku tiba di tujuan lebih cepat," kata dia. Yang luar biasa, Chuck Feeney tak punya rumah, mobil, dan masih setia memakai jam tangan yang ia beli seharga US$ 15 atau kurang dari Rp 150 ribu. 










5. Ingvar Kamprad


Pendiri Ikea, Ingvar Kamprad juga memilih naik pesawat di kelas ekonomi, kalau bisa di maskapai penerbangan murah biar hemat.

Suatu hari ia ditolak masuk ke malam gala pemberian penghargaan di bidang bisnis, gara-gara datang ke lokasi menggunakan bus!

Ingvar juga tak suka makan di restoran mewah. Express.co.uk melaporkan, makan bakso ala Swedia di kafetaria Ikea sudah memuaskan seleranya. Dan, diam-diam ia punya kebiasaan 'menilep' paket garam dan merica yang memang disediakan bagi konsumen.

Ia juga mendorong para stafnya di Ikea untuk tidak menyia-nyiakan apapun -- gunakan kertas di kedua sisinya untuk menulis, matikan lampu saat meninggalkan ruangan. 

 6. T. Boone Pickens

Raja minyak dari AS, T. Boone Pickens punya uang sebanyak US$ 1,2 miliar atau Rp 11,7 triliun. Tapi, ia selalu belanja sendiri ke toko, membawa dan mematuhi catatan yang ia tulis sebelumnya, dengan membawa uang pas.













7. James Caudwell

Konglomerat di bisnis telepon genggam asal Inggris James Caudwell, punya harta lebih dari US$ 2 miliar. Namun, ia masih mencukur rambutnya sendiri. Sebelum pensiun, dari pada menghabiskan uang untuk beli bensin, ia memilih sepeda sebagai alat transportasi ke tempat kerja. 












8. Azim Premji

Triliuner asal India, Azim Premji punya uang US$ 11,2 miliar atau Rp 109,7 triliun. Ia mengendarai mengendarai Ford Escape selama 8 tahun, sebelum menggantinya dengan Toyota Corolla. Lebih memilih hotel bertarif murah ketimbang bintang lima. Bahkan berhembus rumor, ia memakai piring kertas sebagai wadah hidangan dalam pesta pernikahan putranya.











9. Graham Hil

Pengusaha teknologi dan pendiri situs pendukung pembangunan berkelanjutan, Treehugger.com, Graham Hill
yakin benar, makin sedikit barang yang kita miliki, perasaan kita niscaya makin bahagia.

Ia tinggal di apartemen seluas 39 meter persegi, di mana segala perabotan, dari tempat tidur sampai meja kerja bisa dilipat (foldable)-- langsung ditarik dari dinding. Tak banyak makan tempat. Ringkes. 



MONSTERS UNIVERSITY adalah animasi produksi terbaru Pixar dan Walt Disney. Film ini merupakan prekuel dari MONSTERS, INC. yang rilis hampir 12 tahun lalu.

Tentu saja tidak mudah membuat sebuah sajian animasi. Begitu pula dengan pengerjaan MONSTERS UNIVERSITY yang cukup unik bahkan membuat kita tak habis pikir bagaimana bisa semua terjadi.

Berikut fakta-fakta menarik di balik proses pembuatan MONSTERS UNIVERSITY! 

1. Pengerjaan 5 Juta Bulu Sully



Karakter monster biru dengan totol-totol merah muda ini memiliki lebih dari lima juta rambut di tubuhnya. Proses pengerjaan rambut itu digarap secara terpisah melalui teknik animasi. Dalam MONSTERS, INC. (2001) saja setiap frame Sully dibutuhkan sekitar 12 jam untuk menggerakkan.


2. Pelajaran di Universitas Monster


Mike Wazowski (Billy Crystal) dan James P Sullivan (John Goodman) alias Sully menuntut ilmu di Universitas Monster. Di sana mereka mempelajari teknik menakut-nakuti, seni dan monstrositas, ilmu pengetahuan, bisnis serta olahraga air.

3. Organisasi 'OK'


Ada dua belas organisasi Yunani di kampus. Mike dan Sully bergabung dalam organisasi persaudaraan "Oozma Kappa" yang disingkat menjadi OK dan dihuni oleh monster-monster yang cenderung invisible.

4. Observasi Kampus ke Kampus


Tim kreatif film ini melakukan observasi ke banyak perguruan tinggi di Amerika Serikat untuk mencari tahu tentang tradisi kampus. Dari bagaimana gaya hidup Yunani, kondisi kantin kampus hingga struktur perguruan tinggi modern. Hal tersebut dilakukan agar apa yang tersaji tampak real.

5. Proses Pemakaian Komputer 100 Juta Jam!


Proses pengerjaan film ini cukup mengejutkan. Yakni memakan 100 juta jam pemakaian komputer untuk mendesain, memprogram dan melakukan teknik animasi. Bayangkan jika dibuat dengan satu komputer saja, akan memakan waktu sekitar 10.000 tahun.


Banyak orang dari ’kelas menengah’ ini naik ke atap kereta karena mereka tidak mampu membayar harga tiket; beberapa orang tersengat listrik setiap tahunnya, beberapa lainnya meninggal karena terjatuh. Untuk mencegah mereka naik ke atas, pemerintah yang baik hati mulai membangun bola-bola beton yang digantung di atas jalur kereta api untuk menghancurkan kepala mereka yang naik di atas atap kereta api, kadang-kadang petugas merazia mereka dengan menyemprot mereka dengan cat, bahkan dengan kotoran manusia. Beberapa stasiun, termasuk Manggarai, menempelkan kawat berduri di atap rel sehingga orang-orang yang mencoba melompat ke atap akan tersayat.


Herry Suheri – penjual rokok di Stasiun Manggarai masih berpikir bahwa orang-orang tidak akan takut dengan upaya pencegahan yang drastis tersebut: ”Masih ada saja orang yang naik ke atap kereta ekonomi, apalagi saat jam-jam padat. Bukan hanya untuk tumpangan gratis, tapi karena jumlah kereta yang ada tidak mencukupi untuk penumpang yang harus sampai ke rumah atau ke tempat kerja.”


Sistem kereta api, ’dareah penghijauan’, ’rencana perbaikan kota’ – semua palsu, hanya ada di angan-angan. Kenyataan yang ada amatlah brutal namun jelas: Jakarta tidak bisa dikategorikan dalam definisi kota apapun. Kota ini adalah sebuah laboratorium, sebuah eksperimen fundamentalisme pasar. Binatang percobaannya adalah masyarakat. Mereka sedang dipelajari: seberapa besar ketidaknyamanan yang dapat mereka tahan, seberapa banyak lingkungan tak sehat yang masih bisa mereka hadapi, dan seberapa banyak pemandangan buruk dikota ini yang akhirnya dapat membuat mereka melarikan diri?


Saat ini, lebih baik buat kita untuk tidak menggantungkan harapan pada kota Jakarta. ’Kota besar yang paling tidak layak untuk ditinggali di Asia-Pasifik’ ini tidak akan jadi lebih baik dalam waktu dekat ini, juga mungkin tidak dalam jangka waktu yang lama. Tidak akan ada perubahan di bawah pemerintahan sekarang ini. Tidak di bawah rejim ini.


Di Amerika Latin, kelompok sayap kanan dulu meneriakkan: ”Jakarta akan datang!” untuk menakut-nakuti pemerintahan sayap-kiri di Chile dan di berbagai tempat lain di dunia. Namun Jakarta sekarang ada di sini, dalam kondisi prima sebagai monumen keberhasilan kapitalisme yang tidak terkontrol; sebuah monster, sebuah peringatan, dan contoh kasus bagi mereka yang ingin tahu seberapa besar keserakahan dan keegoisan kaum elit.



*Artikel ini dimuat di buletin berita Amerika Serikat, Counter Punch, dengan judul ”The Perfect Fascist City: Take a Train in Jakarta”, edisi 17-19 Februari 2012.


Andre Vltchek adalah seorang penulis novel, analis politik, pembuat film dan jurnalis investigatif. Dia hidup dan bekerja di Asia Timur dan Afrika. Buku non-fiksi terakhirnya ”Oceania” menggambarkan neo-kolonialisme Barat di Polinesia, Melanesia dan Mikronesia. Penerbit Pluto di Inggris akan menerbitkan buku kritiknya atas Indonesia (”Archipelago of Fear”) di bulan Agustus 2012. Dia dapat dihubungi lewat situs internetnya di http://andrevltchek.weebly.com/


Fitri Bintang Timur adalah peneliti, penulis dan penikmat tulisan bagus. Dia menyepi dari Jakarta selama sepuluh bulan setelah lima tahun lebih naik kereta api di kota itu. Ia akan kembali suatu hari nanti. 


Rossie Indira adalah penulis dan konsultan. Buku terakhirnya ’Surat Dari Bude Ocie’ diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Buku tentang perjalanannya ke 10 negara ASEAN akan selesai tahun ini. Dia dapat dihubungi lewat situs internetnya di http://rossie-indira.weebly.com/

Part 1/3        |       Part 2/3        |


Penduduk yang tidak mendapatkan informasi yang benar menjadi apatis setelah melewati kampanye cuci-otak pro-bisnis selama beberapa dekade. Setelah tidak ada lagi pemikiran kritis di kota ini, hasilnya adalah tidak ada bioskop yang khusus memutar film-film seni, tidak ada teater permanen, tidak ada media yang berorientasi sosial ataupun galeri yang memamerkan tragedi Indonesia melalui seni, sampai sekarang ini. Yang terjadi malah milyaran sampah sosial berterbangan dari satu unit Blackberry ke unit lainnya ketika kaum elit saling mengobrol dan mendengarkan musik pop jaman dulu atau memuaskan diri dengan makanan Barat dan Jepang murahan. Memang tidak banyak hal lain yang dapat dilakukan di kota ini. Di satu sisi kota ini hampir hancur karena sudah diselimuti asap beracun dan punya banyak sekali kawasan kumuh yang ada di antara berbagai mall raksasa dan perkantoran. Tidak ada lagi air bersih di kanal-kanalnya yang dulu mengalir deras – yang tinggal hanya racun.


Yang paling menakutkan di kota ini adalah sepertinya tidak ada tempat lagi bagi manusia. Manusia menjadi tidak relevan. Anak-anak juga jadi tidak relevan: tidak ada tempat bermain dan taman untuk mereka. Kalau kita bandingkan dengan kota Port Moresby yang miskin, ibu kota Papua Nugini ini memberikan fasilitas yang jauh lebih baik kepada warganya.



“Persetan dengan bantuanmu!” teriak Presiden Sukarno kepada duta besar Amerika Serikat di depan publik lebih dari setengah abad yang lalu. Pembalasan yang kejam segera datang. Setelah kudeta yang disponsori oleh AS and rejim fasis berkuasa hingga hari ini, Jakarta telah berubah menjadi tempat dengan motto “Persetan dengan rakyat!”



“Saat saya pulang ke Jakarta, saya tidak ingin keluar rumah”, kata Nabila Wibowo, seorang putri diplomat Indonesia. Dia memutuskan untuk tinggal di Portugal setelah masa tugas ibunya berakhir. “Tidak ada budaya di sini, tidak ada konser, tidak ada musik yang asik.Bahkan saya tidak bisa berjalan kaki atau pergi dengan aman dan nyaman di dalam kota. Tidak ada tempat pejalan kaki. Akhirnya, saya hanya pulang sebentar saja, mengunci diri di dalam kamar dan membaca buku.”



Sekarang ‘katanya’ kota ini akan membangun MRT, kereta bawah tanah yang diharapkan memiliki dua trayek saat selesai dibangun. Proyek ini sudah tertunda selama beberapa dekade, namun kalaupun akhirnya berjalan, banyak analis termasuk beberapa professor dari ITB (Institut Teknologi Bandung) yang takut untuk membayangkan hasilnya, mengingat track record aparat pemerintah kota dan kualitas proyek lainnya di negara ini.



Kelihatannya dapat dipastikan bahwa uang yang dialokasikan untuk proyek ini akan disalahgunakan lagi. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada mekanisme untuk menjamin transparansi dan pengawasan yang tak berpihak. Tentunya hal ini sangatlah kontras jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara lain seperti India di mana kereta bawah tanah New Delhi dibangun sesuai rencana dan menghabiskan uang dibawah anggaran.



Tampaknya banyak orang di Indonesia yang berbakat dalam penyalahgunaan uang publik. Dalam hal ini, Indonesia nomor satu.



Dan rakyat juga tidak serius menuntut untuk menghentikan kegilaan ini. Hingga kini rakyat sudah terbiasa hidup susah, mati dini karena polusi, tinggal di perkampungan kumuh tanpa air bersih dan sanitasi dasar, atau duduk berjam-jam di kemacetan. Mayoritas penduduk Jakarta belum pernah ke luar negeri dan oleh karenanya mereka tidak tahu bahwa ‘ada alternatif dunia lain’, bahwa sebenarnya ada kota-kota yang dibangun untuk rakyat. Kaum elit yang suka pergi ke luar negeri tahu benar tentang hal ini, namun mereka memilih untuk tidak mengatakannya.



Kita selalu lihat ada lingkaran setan: proyek baru diumumkan, kemudian diluncurkan, dan akhirnya berantakan setelah banyak dompet oknum-oknum terisi padat. Rakyat tidak diberi apapun tapi mereka pun tidak menuntut apa-apa. Tapi bukannya memang dari dulu sudah seperti ini? Mungkin berbeda sedikit disana dan sedikit disini dari jaman penjajahan Belanda dulu. Meskipun demikian, sebelum meninggal penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer mengatakan pada saya bahwa “situasi waktu dulu tidak pernah seburuk sekarang”.



Mereka yang tahu atau seharusnya tahu apa yang ada di balik layar adalah mereka yang terlibat atau tidak mau berhadapan dengan kenyataan.



Pada bulan Februari 2012 saya bertanya pada Ibu Ririn Soedarsono, profesor di perguruan tinggi terkenal ITB, apakah proyek MRT memiliki kemungkinan untuk selesai.



“Kami akan mulai membangun MRT tahun ini,” ujarnya. “Pada akhir tahun 2013, tahap pertama akan selesai. Secara teknis harusnya tidak ada masalah. Namun saya tidak tahu bagaimana iklim politik pada saat itu…”



2013? Bahkan di negara-negara yang teknologinya berkembang seperti Jepang, Cina atau Chile, satu jalur kereta bawah tanah dapat memakan waktu 4 hingga 10 tahun pembangunan, tergantung pada situasi daerahnya. Tapi mungkin saja saya salah tangkap mengenai definisi ‘tahap pertama’.




Sebetulnya angkutan kereta api di Jakarta masih lebih baik daripada di Nairobi. Banyak gerbong kereta yang memiliki alat pendingin karena walaupun bekas tapi diimpor dari Jepang. Namun kelihatannya kereta-kereta ini cenderung menua secara cepat karena kurangnya perawatan: satu tahun saja di Jakarta dan kereta berusia 30 tahun asal Jepang yang datang dalam kondisi sempurna akan berakhir dengan pintu rusak, kursi tersayat dan sistem pendingin udara yang tersumbat kotoran.



“Kami naik kereta dua kali seminggu,” jelas Ibu Enny dan Ibu Susie dari Bogor. “Kami jarang naik di hari kerja, terutama di jam-jam padat. Hampir tidak ada tempat untuk berdiri. Buat kami perempuan, sebetulnya naik kereta pas jam padat amatlah menakutkan, apalagi ketika para penumpang berebut memasuki gerbong.”



Namun demikian, keunggulan sistem kereta api di Jakarta (yang disebut-sebut sebagai ‘keajaiban kapitalis dan demokrasi’) dari Nairobi (sebagai ibu kota dari salah satu negara paling miskin di dunia) mungkin tidak akan bertahan lama. Di awal tahun 2013 Nairobi sudah bersiap untuk memperbaharui jaringan rel kereta api lamanya dan menambah jalur modern yang pertama, diikuti dengan yang kedua di tahun 2014. Stasiun-stasiun keretanya akan memiliki tempat parkir, toko-toko dan fasilitas modern, serta akan menghubungkan area yang ditempati oleh kelas menengah dan bawah.



Perusahaan-perusahaan konstruksi dari Cina membangun jalan raya, jalan layang dan proyek infrastruktur lainnya di Afrika Timur. Mereka juga membangun tempat pejalan kaki, rel kereta api dan dalam dua tahun mereka berencana untuk membangun jalan kereta api ke Bandara Internasional Jomo Kenyatta di Nairobi. Bandara Sukarno Hatta di pinggiran Jakarta yang dulu megah sudah menunggu selama beberapa dekade untuk dihubungkan dengan jalan kereta api ke Jakarta, namun sejauh ini baru mendapatkan tambahan jalur jalan tol saja.



Beberapa pertanyaan logis dari yang dipaparkan diatas adalah: Mengapa Indonesia bisa jauh tertinggal dari kota-kota seperti Kairo, Nairobi, Johannesburg dan Lagos ataukah ada hal lain yang terjadi? Mungkinkah kaum elit Indonesia mengorbankan puluhan bahkan ratusan juta orang hanya untuk keuntungan mereka sendiri? Mereka sudah pernah melakukan itu sebelumnya, apakah mungkin mereka melakukannya lagi?



Sekarang ini apa yang banyak kita lihat di sepanjang rel kereta api adalah anak-anak kecil dan balita yang setengah telanjang bermain dengan sampah dan gorong-gorong terbuka. Di sini sampah dibakar di ruang terbuka karena Jakarta tidak memiliki sistem pembuangan sampah komprehensif. Pengumpulan dan pengurusan sampah adalah hak publik, oleh karenanya tidak menciptakan laba dan tidak menyenangkan pejabat. Hanya segelintir penduduk Jakarta memiliki akses atas air yang benar-benar bersih, dan hanya 30 persen yang dapat sanitasi dasar.



Hidup di sepanjang jalan kereta api ini sudah seperti hidup di neraka, dengan gerbong-gerbong yang terus menerus lewat dari satu stasiun ke stasiun lainnya.



Membaca apa yang ditulis mass media Indonesia yang ahli dalam seni mengelabui akan membuat anda bahwa Jakarta sudah punya sistem perkereta-apian dan hanya perlu sedikit penyempurnaan. Bahkan Anda dapat menemukan semacam peta dari ’sistem’ transportasi itu di internet. Tapi cobalah datang ke stasiun, coba naik keretanya, dan coba interkoneksinya, maka anda akan berpikir ulang apakah sebenarnya sistem ini ada dan mencukupi sebagai salah satu pilihan angkutan massal.



Beberapa masalah yang saya temui antara lain: Tidak ada jadual dan informasi yang disediakan dan mudah dimengerti penumpang; Petugas yang kurang tanggap, lamban dan tidak efisien dalam penjualan tiket secara manual. Tidak mudah untuk dapat sampai ke peron yang dituju. Padahal orang-orang yang menggunakan kereta api adalah mereka dari kelas menengah Indonesia.



Harus dicatat, ini adalah kelas menengah yang didefinisikan secara lokal, menggunakan angka-angka dari Bank Dunia dan pemerintah Indonesia: menurut mereka, kelas menengah adalah mereka yang hidup lebih dari US$2 (atau sekitar Rp. 18.000) per hari. Menurut mereka ini berlaku bahkan di kota yang merupakan salah satu kota paling mahal di Asia Timur.



Menurut batasan di atas, mayoritas penduduk kota Jakarta berasal dari ’kelas menengah’. Namun kalau kita lihat kenyataannya, sebagian besar dari mereka hidup di lokasi yang di belahan dunia lain disebut sebagai ’kawasan kumuh’. Kawasan dimana mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih dan hidup dalam kondisi kebersihan yang tak layak.


|       Part 1/3        |       Part 3/3        |



Kalau anda naik kereta api di Jakarta, berhati-hatilah: pemandangan yang anda lihat di balik jendela mungkin akan membuat resah anda yang bukan wartawan perang atau dokter. Terlihat ratusan ribu orang merana tinggal di sepanjang jalur kereta. Rasanya seperti seluruh sampah di Asia Tenggara ditumpahkan di sepanjang rel kereta; mungkin sudah seperti neraka di atas bumi ini, bukan lagi ancaman yang didengung-dengungkan oleh ajaran agama.

Memandang keluar dari jendela kereta yang kotor, anda akan melihat segala macam penyakit yang diderita oleh manusia. Ada luka-luka yang terbuka, wajah terbakar, hernia ganas, tumor yang tak terobati dan anak-anak kurang gizi berperut buncit. Dan masih banyak pula hal-hal buruk yang bisa anda lihat yang bahkan sulit untuk digambarkan atau difoto.



Jakarta, ibu kota negara yang oleh media Barat diberi predikat ‘da kondisi morat-marit. Tapi mari kita lihat lagi masalah kereta api kita.

Saya memutuskan untuk naik kereta api ekspres dari Stasiun Manggarai ke Tangerang (tempat di mana beberapa tahun lalu diterapkan hukum syariah yang walaupun tidak konstitutional namun tetap berjalan dengan absolut impunitas), untuk satu alasan saja: melihat apakah ada upaya nyata dalam ‘melawan/mengatasi’ apa yang disebut keruntuhan total infrastruktur Jakarta, alias kemacetan total (total gridlock) .



Seperti halnya berbagai masalah di Indonesia, kemacetan punya sejarah yang menarik:

Sejak tahun 1965 (tahun dimana terjadi kudeta militer brutal yang didukung oleh Amerika Serikat yang membawa Jendral Soeharto ke puncak kekuasaan dengan menghabisi nyawa 800,000 hingga 3 juta jiwa. Mereka yang terbunuh antara lain dari golongan kiri, kaum intelektual, masyarakat minoritas Cina, serikat pekerja dan kaum ateis atau sederhananya bisa saja mereka yang pada waktu itu memiliki istri yang lebih cantik, tanah yang lebih luas atau sapi yang lebih gemuk), pemerintah Indonesia bekerja keras untuk menjamin bahwa kota-kota di Indonesia tidak memiliki transportasi publik, tidak memiliki taman yang luas dan tempat pejalan kaki. Ruang publik secara umum dianggap sangat berbahaya karena bisa saja disana masyarakat akan berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu ‘subversif’ seperti rencana menggulingkan pemerintahan.

Taman-taman publik diambil alih oleh kontraktor untuk dijadikan lapangan golf pribadi untuk kaum elit. Tempat pejalan kaki juga dihilangkan karena tidak menguntungkan dan dianggap ‘terlalu sosial’. Pada akhirnya, transportasi publik menjadi milik swasta dengan kualitas yang turun menjadi angkot dan metromini yang mengeluarkan asap hitam dari knalpotnya dan bajaj India bekas yang bahkan sudah tidak dipakai lagi selama beberapa dekade di negara asalnya.

Itu terjadi di Jakarta. Kota-kota lain dengan jumlah penduduk antara 1 hingga 2 juta jiwa seperti Palembang, Surabaya, Medan dan Bandung tidak memiliki transportasi publik yang berarti, selain angkot kecil, kotor berkarat dan bis yang kotor dan bau.

Tentu saja semua ini sudah direncanakan: produsen mobil diberikan lisensi untuk memproduksi mobil model lama dari Jepang dan menjualnya dengan harga gila-gilaan (mobil di Indonesia dijual antara 50-120 persen lebih mahal daripada di Amerika Serikat), kemudian memaksa penduduk Indonesia – yang termasuk paling miskin di Asia Timur – untuk membeli mobil pribadi. Mobil yang pertama dibawa masuk, lalu sepeda motor yang lebih berbahaya, fatal untuk lingkungan hidup dan sama sekali tidak efisien. Di kota-kota besar di Cina dan banyak kota Asia lainnya sepeda motor sudah dilarang masuk ke kota.

Pejabat pemerintah dan wakil rakyat di DPR diam-diam secara konsisten mendapat suap dari industri mobil. Lobi mobil ini menjadi sangat berpengaruh dan menghambat segala upaya untuk memperbaiki angkutan kereta api maupun kapal laut antar pelabuhan di Jawa, salah satu pulau yang paling padat di dunia.

Pada tanggal 14 Agustus 2011, koran Jakarta Post menulis:

Anggota Partai Demokrasi Indonesia Pejuangan (PDIP) Nursyirwan Soedjono yang juga Wakil Komisi V DPR untuk mengawasi bidang transportasi, telah lama mempertanyakan ketidakmauan pemerintah untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperbaiki jaringan rel kereta di negara ini. Mereka menyalahkan ketakberdayaan mereka pada lobi politis ‘tingkat-tinggi’ yang diatur oleh industri otomotif yang menerima keuntungan langsung dari pembangunan jalan di negara ini.

“Tidak ada tuh cerita bahwa kami [Komisi V] menolak rencana anggaran pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur rel kereta api,” Nusyirwan mengatakan pada Jakarta Post. “Namun tampaknya ada ‘kelompok berpengaruh’ yang selalu menolak segala upaya untuk meningkatkan jasa transportasi umum, khususnya kereta api.”

Seperti di banyak masyarakat fasis yang ekstrem ataupun masyarakat feodal, kaum ‘elit’ menikmati naik mobil limosin sementara orang yang tidak punya patah kaki ketika mereka jatuh ke got karena tidak ditutup, diperkosa di kendaraan umum dan menghirup asap knalpot ketika naik angkot, atau otak mereka berhamburan di atas trotoar karena naik motor di atas trotoir yang tidak rata setelah frustasi naik motor di antara mobil dan truk yang agresif di jalanan.

Namun para pengambil keputusan di pemerintahan menikmati adanya impunitas selama beberapa dekade ini dan mereka telah mengambil hampir semua ruang publik di kota Jakarta. Dengan impunitas pemerintah selain memang tidak kompeten dan malas, mereka menjadi semakin tidak punya motivasi serta beritikad untuk menutup semua solusi jangka panjang bagi kota Jakarta.

Kita lihat saja kenyataan bahwa panjang rel kereta api di sini malah menyusut sejak masa penjajahan Belanda; Jakarta dengan penduduk lebih dari 10 juta jiwa (bahkan lebih di hari kerja) menjadi satu-satunya kota (dengan jumlah penduduk yang hampir sama) di dunia yang tidak memiliki sistem angkutan massal.



Beberapa tahun lalu ada upaya membangun dua jalur monorel walaupun bukan sistem angkutan massal yang paling efektif untuk kota Jakarta. Jalan-jalan ditutup, debu dan kotoran dimana-mana, penduduk diminta untuk bersabar dengan alasan bahwa ‘pembangunan ini untuk mereka’, namun kenyataannya tidak lah demikian, karena ternyata tujuan utama sistem transportasi ini adalah untuk mengeruk laba.

Proyek ini diberikan pada konsorsium swasta dan akhirnya, sudah dapat diduga, uang publik disalahgunakan. Pembangunan tiba-tiba berhenti, menyisakan pilar-pilar beton yang memancang di tengah jalan. Tidak ada yang dibawa ke pengadilan dari proyek yang membawa skandal ini, dan media amat disiplin untuk hanya melaporkan pernyataan resmi pemerintah, seolah-olah walaupun uang sudah lenyap tapi mereka yang bertanggungjawab tidak layak untuk diganggu hidupnya oleh penyelidikan polisi.


Supaya kita tidak hanya melihat dari satu sisi saja, memang ada pula upaya untuk menyelamatkan Jakarta, misalnya mencoba transportasi air dengan perahu di kanal-kanal yang sebenarmya sangat tercemar. Sayangnya sampah-sampah yang ada di kanal-kanal itu merusak mesin perahu, ditambah dengan bau menyengat dari kanal yang selalu dipenuhi sampah dan benda beracun sehingga ‘proyek’ ini gagal total dalam beberapa minggu saja.

Banjir Kanal Timur seharusnya bisa membawa perubahan berarti bila dilakukan dengan revolusi seluruh pendekatan pekerjaan publik yang tujuannya agar pembangunan kota Jakarta sesuai dengan standar Asia di abad ke-21. Selama beberapa dekade, Jakarta telah mengalami banjir besar; pernah 2/3 kotanya terendam banjir. Hal ini disebabkan kanal-kanal yang tersumbat, lahan hijau yang hilang dan pembangunan yang membabi-buta. Akhirnya diambil keputusan untuk membebaskan tanah dan membangun kanal bankir untuk menyalurkan air berlebih ke laut. Pada saat perencanaan, dijanjikan akan dibangun taman-taman publik atau paling tidak tempat pejalan kaki di pinggir kanal. Juga dijanjikan adanya jalur khusus untuk pengendara sepeda, tempat berolahraga, juga transportasi air, bahkan angkutan dengan tram listrik.

Bagi mereka yang masih punya harapan untuk Jakarta akhirnya dibenturkan pada kenyataan yang jauh dari apa yang dijanjikan. Di tahun 2010 dan 2011, saat pembangunan kanal masih jauh dari penyelesaian, kenyataan pahit mulai terlihat.

Kualitas konstruksi kanalnya sangatlah buruk, bahkan sebelum pembangunan selesai, sampah telah menutup proyek kanal tersebut. Kejutan berikutnya: pemerintah mengatakan bahwa mereka memang tidak berencana untuk menyelenggarakan transportasi publik di pinggir/atas kanal itu. Seperti biasa, mereka meyakinkan publik bahwa tidak akan akan ada ruang publik disana. Di awal tahun 2012, lahan di sepanjang kanal dijadikan jalan raya (walaupun menggunakan kata jalan inspeksi) yang langsung digunakan oleh pengendara sepeda motor. Bahkan sejak sebelum selesai dengan sempurna, namun secara resmi sudah beroperasi, kanal banjir ini kelihatannya hanya akan menjadi tempat pembuangan sampah dan menambah harapan tinggi para pelobi motor/mobil.

Bayangkan berapa kilo meter ruang kota yang terbuang (meski secara resmi pemerintah menganggap proyek ini sukses)! Tidak ada sedikitpun tempat bagi pejalan kaki dan tidak ada satupun taman bermain untuk anak-anak.

Bagaimana para pejabat pemerintah bisa menghindar dari tanggung jawabnya walaupun ada bukti nyata dari perampasan hak rakyat disini? Di negara lain, hal ini bisa dianggap sebagai ‘pengkhianatan’ kepada bangsa dan negara.

Hal ini bisa terjadi karena dalam ‘demokrasi Indonesia’ tidak ada akuntabilitas. Tidak ada akuntabilitas sama sekali! Korupsi terjadi dimana-mana dan warga negara tidak memiliki mekanisme untuk mengorganisir protes (obsesi dengan jaringan sosial seperti Facebook pada umumnya hanya untuk status semata). Bahkan pembunuhan orang yang berbeda kepercayaan dengan kader kelompok agama garis keras tidak membuat masyarakat ‘berpendidikan dan kalangan menengah’ turun ke jalan untuk berdemonstrasi.

Yang terasa adalah bahwa di seluruh negara, termasuk di ibu kota, masyarakat telah putus asa sejak lama. Orang-orang menjalani hidupnya dalam kota megapolitan tanpa perlu menuntut, memprotes atau berkeluh-kesah.

Masalahnya, di Indonesia berkeluh-kesah, menuntut atau berdemo jarang atau sama sekali tidak membawa hasil. Surat-surat yang ditujukan kepada wakil rakyat di DPR tidak dijawab, bahkan banyak yang tidak dibuka, sementara surat ke media massa dimuat hanya jika isinya berada dalam batas-batas yang tidak tertulis namun tersirat ‘Proyek’ tidak terbuka untuk didebat (karena melibatkan banyak uang dan ada pembagian uang jarahan tersebut antara pemerintah dan perusahaan swasta dengan aturan dan formula yang telah mereka sepakati bersama) dan tidak diberikan jalan untuk masyarakat bisa intervensi karena akan ada resiko merusak sistem yang ada. Rakyat hanya sesekali diberi informasi tentang apa yang akan dibangun, kapan dan di mana. Jika ada uang yang raib – hal yang amat sering terjadi – tidak ada konsekuensi yang ditanggung pelaksananya. Jika rencana ‘berubah’ atau jika jadwal tidak terpenuhi, tidak ada yang dipaksa bertanggungjawab.



Indonesia adalah contoh dimana diktator bisa dipilih melalui pemilihan umum yang dilangsungkan secara periodik (para pemilih dapat memilih dengan bebas antara satu kandidat korup dengan kepentingan bisnisnya dengan kandidat lain yang juga korup dengan kepentingan bisnis yang lain) dan memimpin dengan dikontrol dan disponsori oleh kepentingan Barat serta sama sekali tidak ada kekuasaan yang diberikan pada rakyat.

Jika ada penumpang yang jatuh karena lantai kereta api yang berkarat dan meninggal atau mereka yang jatuh di lubang galian proyek, jangankan dapat kompensasi, dapat permohonan maafpun tidak.

Ketika diminta untuk membandingkan Indonesia dengan Cina, Profesor Dadang M Maksoem, mantan pengajar di University Putra Malaysia (UPM) yang sekarang bekerja untuk pemerintah daerah Jawa Barat, memberikan jawaban dengan berapi-api: “Sederhana saja: mereka [orang Cina] berkomitmen untuk melakukan yang terbaik untuk negara mereka. Pendidikan disana tidak seperti di sini. Bagaimana sih kok pemerintah tidak bisa memberikan transportasi publik yang layak? Rakyat dipaksa untuk untuk membeli sepeda motor mereka sendiri untuk mengangkut diri mereka sendiri dan mereka dipaksa untuk membahayakan jiwa mereka di kondisi lalu-lintas yang parah. Sekarang kemacetan lalu-lintas ada di mana-mana. Entah apa yang bisa saya katakan. Orang-orang disini itu bodoh, idiot, mati otak, atau rakus Sih? Pilih saja jawabannya!”

Tapi jawaban seperti ini bukan yang ditampilkan di media populer di Barat. Secara resmi Barat memuja Indonesia. Bagaimana tidak: penguasa dan elit Indonesia yang taat pada mereka berani mengorbankan rakyat, pulau-pulau, bahkan ibukota mereka sendiri untuk kepentingan dan keuntungan perusahaan-perusahaan multi-nasional dan penguasa dunia. Perusahaan asing dan pemerintah mana yang tidak menghargai kemurahan hati penguasa dan elit Indonesia ini?



Tapi marilah kita kembali ke masalah transportasi publik lagi.


Pada masa pemerintah dan swasta merencanakan proyek pembangunan monorel (atau setidaknya ini yang mereka katakan pada masyarakat), kota ini mulai membangun apa yang disebut ‘busway’ atau jalur khusus bus, yaitu proyek yang awalnya adalah kesalahan dalam memahami konsep transportasi publik di kota Bogota yang terletak nun jauh di Kolombia, Amerika Selatan.

Alih-alih membangun sistem transportasi kereta api massal yang bisa mengangkut jutaan penumpang setiap harinya, Jakarta ‘membangun’ jalur busway yang mengambil dua jalur dari jalur yang sudah ada di jalan-jalan utamanya, kemudian mengoperasikan kendaraan bus sempit dimana para penumpang duduk menyandar dinding sambil menghadap satu sama lain. Setiap bus hanya punya satu pintu untuk penumpang naik dan turun. Halte dan jalan masuk ke halte dibuat dari logam yang mudah berkarat dan sekarang pelat lantainya sudah banyak yang lepas dan meninggalkan lubang di jalan masuk itu. Hampir semua pintu otomatis di halte sudah tidak beroperasi dengan baik dan akhirnya ada orang yang terdorong ke jalan hingga meninggal atau luka parah.

Seperti moda transportasi lain di Jakarta, sistem ini tidak dirancang untuk meningkatkan hajat hidup orang banyak, dalam hal ini untuk mengurangi kemacetan dan mengangkut berjuta orang secara aman dan nyaman. Busway dirancang sebagai proyek untuk memperkaya perusahaan yang memiliki saham dan para pejabat yang korup.

Sistem busway tidaklah efisien, tidak memperhatikan keindahan dan tidak mempersatukan kota – malahan lebih memecah-belahnya. Hampir tidak ada tempat pejalan kaki di dekat halte busway. Penumpang yang sampai di halte busway harus beresiko kehilangan nyawanya untuk menyeberang jalan untuk sampai ke tempat tujuan atau naik angkutan umum lain.

Bahkan ketika halte busway dibangun di dekat stasiun kereta, perencana kota menjamin bahwa tidak ada jalan langsung ke sana. Selama beberapa dekade, para penguasa Jakarta telah memastikan tidak adanya interkoneksi antara moda transportasi, termasuk dengan stasiun kereta peninggalan jaman Belanda. Kota ini hampir tidak memiliki tempat pejalan kaki, hampir tidak ada tempat penyeberangan di bawah tanah (hanya ada satu di seluruh kota yaitu dekat stasiun Kota yang pembangunannya membutuhkan waktu beberapa tahun) yang menghubungkan stasiun dengan jalan raya. Dan kenyataannya Jakarta tidaklah memiliki banyak jalan raya – kebanyakan dari jalan raya ini hanyalah replika buruk dari jalanan di pinggiran kota Houston: dengan jalan tol (layang atau bukan), tidak ada tempat pejalan kaki dan fasilitas-fasilitas yang dipisahkan oleh pagar-pagar, tidak langsung bisa diakses dari jalanan. 

Kebodohan dalam perencanaan kota ini hanya bisa disamai oleh ketidakcerdasan pembangunan negara secara keseluruhan – Jakarta adalah sebuah contoh dunia kecilnya. Contohnya, untuk putar-balik di jalanan saja, seseorang harus berkendara satu kilometer atau lebih dan hal ini tentunya menambah kemacetan, konsumsi bahan-bakar dan polusi. Kota ini dirancang sedemikian rupa sehingga orang harus naik mobil hanya untuk menyebrang jalan karena memang hampir tidak ada tempat pejalan kaki dan sarana penyebrangan yang memadai. Sarana transportasi di kota ini berjalan sendiri-sendiri. Tidak ada interkoneksi. Rakyat dipaksa untuk mengemudikan mobil atau skuter murah yang semakin populer belakangan ini (warga lokal menyebutnya motor) untuk kemudian membusuk di tengah kemacetan yang legendaris. Hal ini bisa terjadi karena pelobi mobil mampu menyuap pemerintah dan hasilnya adalah ketidakmauan pemerintah untuk membangun jaringan transportasi publik yang efisien.

Sangat jelas terlihat bahwa ada banyak kepentingan ekonomi yang terlibat. Untuk dapat menganalisa Indonesia, penting untuk diingat bahwa pertimbangan dan prinsip moral yang ‘normal’ sudah menghilang dari kamus para penguasa.

Sekelompok kecil pengusaha dan politisi telah menjarah sebagian besar sumber daya alam negara ini; mereka menghancurkan banyak hutan tropis dan mengubah negara kepulauan ini menjadi bencana bagi lingkungan hidup. Mayoritas penduduk Indonesia tidak pernah mencicipi keuntungan dari kerusakan yang terjadi di negara mereka.

Penduduk Jakarta tak terkecuali. Kota ini dibangun ‘bukan untuk rakyat’, sebagaimana dikatakan oleh seniman Australia George Burchett pada saat mengunjungi kota ini lebih dari dua tahun lalu.

|       Part 2/3        |       Part 3/3        |
Indonesia tak hanya kaya wisata alam yang memukau. Untuk urusan perut, berbagai daerah di Tanah Air memiliki daftar menu teramat panjang untuk dijajal. Kota Cirebon salah satu contoh yang cukup menggambarkan melimpahnya ragam kuliner nusantara yang tak terkira lezatnya. Apa saja warisan kuliner dari kota Cirebon itu?

1. Empal Gentong



Menu ini berupa daging dan jeroan sapi yang dibanjiri kuah mirip soto. Rasanya sungguh lezat, tapi memang sangat berkolesterol. Sesuai namanya, daging dimasak menggunakan kayu bakar (pohon mangga) di dalam gentong yang terbuat dari tanah liat. Empal gentong dapat disajikan dengan nasi atau lontong, kemudian disiram kuah bumbu yang khas, ditambah taburan bawang goreng dan daun kucai. Bagi penyuka pedas, sambal empal gentong sangat cocok untuk uji nyali karena dibuat dari saripati cabai merah kering yang dikemudian ditumbuk.

2.  Nasi Jamlang


Nasi putih yang penyajiannya dibungkus dengan daun jati sehingga membuat nasi putih itu terasa berbeda. Anda bisa memilih berbagai jenis lauk sesuai selera. Mulai dari telur dadar, ayam goreng, daging sapi, ati sapi, otak sapi, pepes tahu, udang goreng, perkedel hingga rendang jeroan. Jangan lupa mencoba sambalnya, berupa irisan cabe merah pedas.

3. Nasi Lengko


Makanan ini mirip nasi pecel yang di atasnya ditaburi irisan kubus-kubus mentimun, taoge, daun bawang, potongan tempe dan tahu, kemudian dilumuri bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng.

4. Tahu Gejrot


Berupa tahu yang di potong kecil-kecil ditaruh di atas piring kecil terbuat dari tanah liat kemudian disajikan dengan bumbu gula merah, cabai, bawang merah dan bawang putih yang diulek. Berbeda dengan tahu lainnya, tahu cirebon rasanya tawar dan teksturnya kasar, tapi justru ini daya tariknya. Tahu Gejrot menjadi jajanan yang membuat kita terus ingin melahapnya, apalagi dengan porsinya yang kecil.


Jakarta - Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengkampanyekan mudik tanpa sepeda motor. Ini sebagai upaya mengantisipasi kecelakaan lalu lintas selama mudik lebaran.


"Bukan melarang, tetapi hanya mengimbau untuk tidak menggunakan motor. Boleh saja (gunakan motor) tetapi dia harus siap di jalan," kata Kepala Korlantas Polri Irjen Pudji Hartanto kepada wartawan di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (14/7/2013). Acara kampanye ini termasuk dengan menghadirkan The Brigadir Band, yang beranggotakan polisi berpangkat brigadir.

Kampanye sekaligus sosialisasi ini dilakukan dengan membagi-bagikan stiker 'Saya Pelopor Keselamatan Berlalu Lintas' dan pin dengan tulisan yang sama. Stiker dan pin tersebut dibagikan ke sejumlah pesepeda.

Pudji mengimbau pemudik yang menggunakan motor memiliki kesiapan fisik dan kendaraan. Pudji juga menekankan agar pengguna motor tidak melanggar undang-undang lalu lintas selama berkendara.

"Tidak boleh berboncengan lebih dari dua orang, apalagi mengangkut muatan yang berlebih yang tidak sesuai kapasitasnya," kata Pudji.

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Chrysnanda Dwi Laksana mengatakan, kegiatan sosialisasi ini perlu dilakukan untuk mengingatkan kepada warga akan pentingnya keselamatan dalam berlalu lintas.

"Ini penting, bagian kita semua baik diri sendiri atau orang lain. Ini sosialisasi untuk tidak mudik dengan sepeda motor," kata Chrysnanda.

Chrysnanda mengimbau warga untuk mengutamakan keselamatan dalam berlalu lintas, terutama saat mudik nanti. Pihaknya mengimbau pemotor menerapkan standar-standar dalam bermotor ketika mudik.

"Kalau menggunakan standar keselamatan diutamakan, jangan bawa anak kecil, dan melebihi kapasitas ya boleh-boleh saja," kata Chrysnanda.

Banyak cara dilakukan oleh klub-klub besar Eropa demi mendekatkan diri kepada fans mereka di seluruh belahan dunia, salah satunya dengan meluncurkan website resmi yang menggunakan bahasa-bahasa di dunia.

1. Juventus FC



Tercatat sejak tanggal 8 september 2009, halaman utama situs resmi Juventus (juventus.com) sudah terpampang bendera Indonesia, yang mana bila kita mengkliknya akan dilarikan ke halaman berbahasa Indonesia yang beralamat di www.juventus.co.id.
Munculnya situs resmi Juventus berbahasa Indonesia tak lepas dari kerja keras jajaran pengurus organisasi suporter pengemar I Bianconeri terbesar di Indonesia, Juventini Indonesia.
Selama lebih dari empat bulan para petinggi Juventini Indonesia yang dimotori sang presiden Fransiskus Susetyo mempersiapkan situs Juventus berbahasa Indonesia ini.
Bahkan untuk terciptanya situs Juventus berbahasa Indonesia ini proses negosiasi sudah berlangsung sejak akhir 2008 lalu yang dilakukan para petinggi Juventini Indonesia dengan pihak M Star selalu pemegang lisensi Juventus di Indonesia dan MP Silva (pemegang lisensi Juventus di Asia).

2. FC Internazionale Milan



Tak mau kalah dari sang rival Juventus, Inter Milan juga menyediakan website berbahasa Indonesia yang resmi diluncurkan tanggal 23 Juli 2011.
Disediakannya bahasa Indonesia juga karena melihat banyaknya Interisti di Indonesia, negara terpadat keempat di dunia yang berjumlah 238 juta penduduk. Langkah ini diambil sebagai sebuah pilihan untuk membayar antusiasme fans Inter, keramahan dan kehangatan kepada FC Internazionale. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah netter yang mengunjungi situs resmi Inter dari Indonesia selalu meningkat setiap tahunnya.

3. FC Real Madrid C.F



Situs resmi Real Madrid dalam versi Bahasa Indonesia diluncurkan pada Senin (6/2/2012) waktu setempat. Ini adalah versi kelima dari Realmadrid.com. Sebelumnya mereka sudah memiliki situs dalam versi Bahasa Spanyol, Inggris, Arab, dan Jepang.
Peluncuran situs resmi El Real dalam versi Bahasa Indonesia merupakan hasil kerjasama antara Madrid dengan Mahaka Media. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya ekspansi Madrid ke luar Spanyol.
Situs yang bisa diakses di alamat www.realmadrid.co.id ini akan memuat informasi tentang berita terbaru dari klub, informasi dan hasil pertandingan, video wawancara pemain, konferensi pers, pernyataan pers, arsip pertandingan, foto pemain dan legenda Madrid, dan konten eksklusif lainnya.

4. Chelsea FC



Setelah selama ini website resmi Chelsea FC hanya berbahasa Inggris, Korea dan Rusia, kemudian Chelsea mengembangkan menambah 2 bahasa lagi yaitu bahasa China dan Thailand, akhirnya setelah 15 tahun website Chelsea FC berdiri akhirnya 11 Mei 2012 website ini memuaskan hasrat para pendukung Chelsea FC di Indonesia dengan meluncurkan website resmi Chelsea FC dalam bahasa Indonesia.
Website Chelsea versi bahasa Indonesia ini mulai dapat diakses sejak 11 Mei 2012 dengan alamat indo.chelseafc.com, meskipun informasi yang ditampilkan belum selengkap versi bahasa Inggris-nya tetapi web ini cukup memberikan informasi penting dan terkini bagi para penggemarnya di Indonesia.

5. FC Barcelona



Situs FC Barcelona kini tersedia dalam versi delapan bahasa, menyusul penambahan bahasa Indonesia. Peluncuran ini diresmikan dan diumumkan dalam situs fcbarcelona.com, Rabu, 8 Mei 2013.
FC Barcelona telah menambahkan delapan bahasa, termasuk bahasa Indonesia pada situsnya. Kini fans Barca yang ada di Indonesia sudah bisa mengakses informasi mengenai Blaugrana dengan mengunjungi www.fcbarcelona.co.id. atau mengunjungi akun Twitter baru @fcbarcelona_id.
Penambahan bahasa Indonesia menyiratkan langkah maju yang besar bagi klub. Dengan demikian, Barca memperluas kehadirannya secara global, sehingga mendorong hubungan yang baik antar fans di seluruh dunia.

6. Liverpool FC



Klub raksasa Liga Primer Inggris, Liverpool, telah resmi meluncurkan situs berbahasa Indonesia, pada Jumat, 10 mei 2013. Salah satu alasan Liverpool meluncurkan situs berbahasa Indonesia tak lepas dari jumlah penggemar mereka yang banyak di Indonesia.
Situs resmi tersebut adalah indonesia.liverpoolfc.com . Situs tersebut bertujuan untuk mengajak para penggemar The Reds di Indonesia merasa lebih dekat dengan klub, yaitu menyajikan konten menarik dalam bahasa Indonesia di setiap hari.
Website tersebut juga menyajikan wawancara eksklusif, berita resmi, dan video di belakang layar. Tak sampai di situ, website tersebut memproduksi konten asli untuk meningkatkan keterlibatan pendukung di seluruh Indonesia.

Monday, July 15, 2013



Masa kecil merupakan masa yang sangat Indah apalagi jika dihabiskan dengan keluarga. Namun bagaimana rasanya kalau Kenangan itu kembali dibangkitkan lagi kala kita setelah dewasa?

Mungkin Foto-foto berikut bisa agan-agan jadiin Inspirasi buat menggali kenangan masa kecil dulu.